Rabu, 24 Juli 2013

ayahku

|0 komentar

Aku adalah anak tunggal. Ibuku adalah seorang wanita yang disiplin dan agak keras sedangkan ayahku kebalikannya bahkan bisa dikatakan bahwa ayah di bawah bendera ibu. Bisa dikatakan ibulah yang lebih mengatur segala-galanya dalam keluarga. Namun, walaupun ibu keras, di luar rumah aku termasuk cewek bandel dan sering tukar-tukar pacar, tentunya tanpa sepengetahuan ibuku.

nikmat bersama tante 2

|1 komentar

Tahun berikutnya aku masuk SMA, dan karena kecapean, aku terpaksa di opname karena sakit thypus. Seminggu dirawat di rumah sakit tanpa melakukan apa-apa membuatku jenuh tidak kepalang. Beberapa kali aku minta pulang, namun dokter belum mengizinkanku, pedahal rasanya aku sudah cukup sehat. Keluargaku giliran menjagaku di rumah sakit, sampai akhirnya, Tante Lina datang, dan mengatakan bahwa esok hari ia akan menjagaku seharian.

nikmat bersama tante

|1 komentar

Namaku Roby. Saat itu tahun 1982, dan aku baru berumur 14 tahun. Sebagai anak tunggal yang mulai punya rasa ingin tahu terhadap dirinya sendiri, dalam usia itu aku mulai sering memperhatikan alat kelaminku sendiri, memain-mainkannya dan larut dalam kebingungan, untuk apa semua itu ada. Di rumah, aku lebih sering tidur dengan pembantu rumahku. Keadaan itu berubah waktu tanteku (adiknya ibuku) yang bernama Lina, ikut menumpang tinggal dengan orang tuaku. Ia waktu itu berusia belasan (masih SMA), dan bakat tubuhnya yang sintal mulai terbentuk. Tante Lina sangat menyayangiku, karena aku adalah cucu pertama di keluarga besar kami.

korban saudara iparku

|1 komentar

Sejak Bapak meninggal tujuh tahun lalu dan Ibu meninggal enam tahun yang lalu, aku tinggal bersama kakak sulungku, Mbak Mira. Rumah orang tuaku di Madiun terpaksa dijual. Uangnya kami bagi bertiga, Mbak Mira, Mbak Mona, dan aku, Mila. Rumah waris itu hanya laku Rp. 6,5 juta. Waktu itu aku masih duduk dibangku kelas tiga SMA. Masing-masing kebagian Rp. 2 juta, sisa Rp.500 ribu dimasukkan ke bank untuk memperbaiki makam kedua orang tua dan biaya keselamatan.

adik iparku asti

|0 komentar

Cerita ini merupakan kejadian yang memalukan sekaligus menyenangkan tentang perselingkuhanku dengan adik iparku Asti. 'Halo', kataku menyambut telepon. 'Oh, kakak!!, Mbak Yuke mana kak', suara diseberang menyahut. 'Asti??, kapan balik ke Jakarta, mbakmu lagi piket, telepon aja ke HP-nya deh, sahutku sambil bertanya. 'Gak usah deh kak, sampaiin aja kalo aku pertengahan juni mo balik, aku kangen banget deh' jawabnya lagi.